Sabtu, 28 Desember 2019


UJIAN AKHIR SEMESTER
ANEMIA SEBAGAI TANTANGAN BANGSA
Essai Ini Disusun Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Komunikasi Kesehatan
Dosen Pengampu : Dela Aristi, MKM, & Gitalia Budhi Utami, MKM


Disusun Oleh:
Silvia Faidah (11181010000113)
Kelas 3A Kesehatan Masyarakat 2018

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DESEMBER 2019



Indonesia merupakan negara berkembang yang masih mempunyai masalah gizi, baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Masalah kelebihan gizi salah satunya adalah obesitas yang dapat meyebabkan penyakit degenerative. Sedangkan masalah kekurangan gizi yang seringkali terjadi di Indonesia adalah anemia. Anemia adalah keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) lebih rendah dibandingkan dengan kadar normal, yang ditandai dengan lemah, lesu, pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah pucat (Rudi & , Lea Masan, 2018). Faktor utama penyebab anemia adalah kurangnya asupan makanan yang mengandung zat gizi besi. Sedangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian anemia adalah gaya hidup seperti merokok, meminum minuman keras, demografi, pendidikan dan lain lain.
Menurut Riskesdas 2018, prevalensi anemia menurut karakteristik pada usia 15-24 tahun sebesar 32,0%, angka ini merupakan angka yang tertinggi dibandingkan kelompok usia yang lainnya. Prevalensi anemia berdasarkan jenis kelamin laki laki sebesar 20,3% dan pada jenis kelamin perempuan sebesar 27,2%, jika dibandingkan prevalensi anemia pada perempuan lebih tinggi sebesar 7,1% dengan prevalensi anemia pada laki-laki. Berdasarkan pendidikan, prevalensi anemia yang tertinggi adalah pada kelompok yang tidak / belum pernah sekolah sebesar 30,6%. Sedangkan berdasarkan tempat tinggal, prevalensi anemia tertinggi berada pada masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan prevalensi sebesar 25%.(Kementerian Kesehatan RI, 2018)
Kelompok usia yang paling rentan terkena anemia adalah remaja putri, hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi yang dapat mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi.  Remaja putri sangat membutuhkan energi, protein, zat besi dan zat gizi lain yang lebih banyak, karena remaja putri masih dalam masa pertumbuhan dan dibutuhkan pengganti zat besi untuk menggant zat zat gizi yang hilang saat menstruasi. Remaja putri juga merupakan calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus dan merupakan kunci perawatan anak dimasa mendatang maka dari itu kualitas dari remaja putri itu sendiri perlu diperhatikan secara khusus.
Salah satu penyebab terjadinya anemia adalah karena pola makan yang buruk atau kurangnya asupan zat besi yang masuk kedalam tubuh. Pola makan yang buruk dengan jumlah yang sedikit maka akan menghambat pertumbuhan remaja, karena  jumlah makanan yang dikonsumsi seperti beras akan berkurang. Beras sendiri mengandung zat besi sebesar 0,5-1,2 mg/100gr jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar., sehingga apabila remaja yang mengkonsumsi <70% energi yang dianjurkan maka akan beresiko mengalami anemia. Mengkonsumsi makanan yang monoton namun kaya akan zat yang bisa menghambat penyerapan zat besi sehingga zat besi yang berada didalam tubuh tidak bisa dimanfaatkan. Kekurangan zat besi juga dapat dipengaruhi oleh status gizi yang buruk, terutama dikaitkan dengan kekurangan asalm folat, vitamin A atau B12, seperti yang terjadi di negara berkembang.
Di Indonesia sendiri pola konsumsi makanan masyarakatnya masih didominasi oleh sayuran yang memiliki zat besi yang sulit diserap, sedangkan daging dan bahan pangan hewani yang memiliki sumber zat besi yang baik bagi tubuh masih dikonsumsi dengan jumlah yang sedikit. Rendahnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi juga disebabkan rendahnya kemampuan keluarga dalam menyediakan sumber makanan zat besi khususnya protein hewani dalam menu makanan sehari hari. Selain itu dikarenakan pula karena masih banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi teh sebelum atau sesudah makan, padahal teh sendiri mengandung zat tanin yang bisa menghambat absorbsi zat besi kedalam tubuh. Maka dapat disimpulkan bahwa kurangnya asupan zat besi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, untuk itu sangat penting untuk petugas kesehatan agar bisa mensosialisasikan kepada masyarakat setempat untuk bisa memenuhi asupan zat besi pada remaja, terutama saat menstruasi karena zat besi sangat penting bagi tubuh sebagai pembentuk hemoglobin.
Anemia sendiri mempunyai gejala yang sering kali disebut 5L yaitu lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai. Gejala ini berdampak kepada remaja putri yang mengalami anemia seperti menurunnya produktivitas dan kemampuan akademik di sekolah karena hilangnya gairah belajar dan konsentrasi belajar yang disebabkan oleh anemia. Anemia juga dapat mengganggu pertumbuhan pada remaja putri, dimana tinggi dan berat badan menjadi tidak seimbang, dan juga dapat menurunkan saya tahan tubuh, sehingga memiliki peluang terserang penyakit. Jika dilihat berdasarkan siklus daur hidup manusia, anemia gizi besi yang diderita oleh remaja akan berpengaruh sangat besar terhadap kehamilan dan juga persalinan yamh akan dialaminya dikemudian hari. Ibu hamil yang mengalami anemia saat remaja dan tidak diatasi sampai dia mengalami kehamilan maka akan berdampak buruk bagi ibu dan bayi yang ada didalam kandungannya. Hal ini dikarenakan apabila pada saat hamil ibu masih mengalami anemia, maka ibu hamil tidak bisa memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuhnya dan si bayi. Akibatnya akan terjadi abortus, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, mengalami sulitnya melahirkan bayi karena Rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik, serta resiko terjadinya pendarahan yang bisa menyebabkan kematian maternal (Listiana, 2016).
Anemia tidak hanya berdampak pada remaja yang akan menjadi ibu saja, tapi berdampak juga terhadap masa depan anak yang dilahirkan. Ibu hamil yang mengalami anemia akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Bayi dengan berat bayi lahir rendah yang tidak dirawat dengan baik maka akan mengalami masalah gizi yang lain salah satunya adalah stunting, yang apabila diderita dalam jangka yang panjang maka akan menyebabkan kematian. Oleh karena itu anemia bukanlah masalah gizi yang bisa disepelekan, tetapi anemia merupakan masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian lebih, khususnya pada remaja putri yang merupakan kelompok rentan terkena anemia agar bisa mencetak generasi bangsa yang berkualitas dikemudian hari.
Anemia dapat dicegah melalui dengan pemeliharaan keseimbangan antara asupan zat besi yang dibutuhkan tubuh dengan hilangnya asupan zat besi dalam tubuh. Jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan zat besi dalam tubuh setiap seorang remaja putri dengan yang lainnya akan berbeda. Hal ini tergantung pada pada riwayat reproduksi dan jumlah zat besi yang hilang dalam tubuh selama menstruasi. Peningkatan konsumsi zat besi untuk memenuhi kebutuhan zat besi dapat dilakukan dengan meingkatkan konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan meminimalkan makanan yang mengandung zat yang dapat absorpsi zat besi ke dalam tubuh. Jika kebutuhan zat besi tidak cukup terpenuhi dengan pola makan, maka dapat ditambah dengan suplementasi zat besi bagi remaja yang masih dalam masa pertumbuhan. Suplementasi zat besi merupakan salah satu strategi yang dapat meningkatkan intake zat besi yang akan berhasil apabila seseorang yang mematuhi aturan mengkonsumsinya. Bentuk strategi lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan dalam mengkonsumsi suplemen zat besi adalah dengan melalui pemberian informasi terkait pentingnya mengkonsumsi suplemen zat besi dan efek samping yang akan dihasilkan jika mengkonsumsinya.
Strategi diatas tidak bisa dilakukan dengan mengandalkan tenaga medis saja, tetapi dibutuhkan juga kerjasama antara tenaga kesehatan dengan berbagai sector terkait seperti dinas kesehatan, orang tua atau keluarga dan sector lainnya yang bisa menunjang suksesnya strategi dalam mencegah dan menanggulangi anemia sejak dini. Sehingga apabila semua bisa bekerja sama dengan baik maka dapat menurunkan angka prevalensi anemia di Indonesia dan bisa mencetak generasi muda yang berkualitas bagi bangsa Indonesia.




DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018. Riset Kesehatan Dasar 2018, pp. 182–183.
Listiana, A. (2016). Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Gizi Besi pada Remaja Putri di SMKN 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah. Jurnal Kesehatan, 7(3), 455. https://doi.org/10.26630/jk.v7i3.230
Rudi, A., & , Lea Masan, H. N. K. (2018). Determinan yang mepengaruhi kejadian anemia pada mahasiswi kebidanan. 28–32.