ANEMIA SEBAGAI
TANTANGAN BANGSA
Essai Ini Disusun Untuk
Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Komunikasi Kesehatan
Disusun Oleh:
Silvia Faidah
(11181010000113)
Kelas 3A Kesehatan Masyarakat 2018
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
DESEMBER 2019
Indonesia merupakan negara berkembang yang masih
mempunyai masalah gizi, baik kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Masalah
kelebihan gizi salah satunya adalah obesitas yang dapat meyebabkan penyakit
degenerative. Sedangkan masalah kekurangan gizi yang seringkali terjadi di
Indonesia adalah anemia. Anemia adalah keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb)
lebih rendah dibandingkan dengan kadar normal, yang ditandai dengan lemah,
lesu, pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah pucat (Rudi & , Lea
Masan, 2018). Faktor utama penyebab anemia adalah kurangnya asupan makanan yang
mengandung zat gizi besi. Sedangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
kejadian anemia adalah gaya hidup seperti merokok, meminum minuman keras,
demografi, pendidikan dan lain lain.
Menurut Riskesdas 2018, prevalensi anemia menurut
karakteristik pada usia 15-24 tahun sebesar 32,0%, angka ini merupakan angka
yang tertinggi dibandingkan kelompok usia yang lainnya. Prevalensi anemia
berdasarkan jenis kelamin laki laki sebesar 20,3% dan pada jenis kelamin
perempuan sebesar 27,2%, jika dibandingkan prevalensi anemia pada perempuan
lebih tinggi sebesar 7,1% dengan prevalensi anemia pada laki-laki. Berdasarkan
pendidikan, prevalensi anemia yang tertinggi adalah pada kelompok yang tidak /
belum pernah sekolah sebesar 30,6%. Sedangkan berdasarkan tempat tinggal,
prevalensi anemia tertinggi berada pada masyarakat yang tinggal di perkotaan
dengan prevalensi sebesar 25%.(Kementerian Kesehatan
RI, 2018)
Kelompok usia yang paling rentan terkena anemia adalah
remaja putri, hal ini dikarenakan remaja putri mengalami menstruasi yang dapat
mengeluarkan darah 27 ml setiap siklus menstruasi. Remaja putri sangat membutuhkan energi,
protein, zat besi dan zat gizi lain yang lebih banyak, karena remaja putri
masih dalam masa pertumbuhan dan dibutuhkan pengganti zat besi untuk menggant
zat zat gizi yang hilang saat menstruasi. Remaja putri juga merupakan calon ibu
yang akan melahirkan generasi penerus dan merupakan kunci perawatan anak dimasa
mendatang maka dari itu kualitas dari remaja putri itu sendiri perlu
diperhatikan secara khusus.
Salah satu penyebab terjadinya anemia adalah karena
pola makan yang buruk atau kurangnya asupan zat besi yang masuk kedalam tubuh.
Pola makan yang buruk dengan jumlah yang sedikit maka akan menghambat
pertumbuhan remaja, karena jumlah
makanan yang dikonsumsi seperti beras akan berkurang. Beras sendiri mengandung
zat besi sebesar 0,5-1,2 mg/100gr jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar.,
sehingga apabila remaja yang mengkonsumsi <70% energi yang dianjurkan maka
akan beresiko mengalami anemia. Mengkonsumsi makanan yang monoton namun kaya
akan zat yang bisa menghambat penyerapan zat besi sehingga zat besi yang berada
didalam tubuh tidak bisa dimanfaatkan. Kekurangan zat besi juga dapat
dipengaruhi oleh status gizi yang buruk, terutama dikaitkan dengan kekurangan
asalm folat, vitamin A atau B12, seperti yang terjadi di negara berkembang.
Di Indonesia sendiri pola konsumsi makanan masyarakatnya
masih didominasi oleh sayuran yang memiliki zat besi yang sulit diserap,
sedangkan daging dan bahan pangan hewani yang memiliki sumber zat besi yang
baik bagi tubuh masih dikonsumsi dengan jumlah yang sedikit. Rendahnya konsumsi
makanan yang mengandung zat besi juga disebabkan rendahnya kemampuan keluarga dalam
menyediakan sumber makanan zat besi khususnya protein hewani dalam menu makanan
sehari hari. Selain itu dikarenakan pula karena masih banyak masyarakat Indonesia
yang mengkonsumsi teh sebelum atau sesudah makan, padahal teh sendiri mengandung
zat tanin yang bisa menghambat absorbsi zat besi kedalam tubuh. Maka dapat disimpulkan
bahwa kurangnya asupan zat besi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain,
untuk itu sangat penting untuk petugas kesehatan agar bisa mensosialisasikan
kepada masyarakat setempat untuk bisa memenuhi asupan zat besi pada remaja,
terutama saat menstruasi karena zat besi sangat penting bagi tubuh sebagai
pembentuk hemoglobin.
Anemia sendiri mempunyai gejala yang sering kali disebut
5L yaitu lemah, letih, lesu, lelah, dan lalai. Gejala ini berdampak kepada
remaja putri yang mengalami anemia seperti menurunnya produktivitas dan
kemampuan akademik di sekolah karena hilangnya gairah belajar dan konsentrasi
belajar yang disebabkan oleh anemia. Anemia juga dapat mengganggu pertumbuhan
pada remaja putri, dimana tinggi dan berat badan menjadi tidak seimbang, dan
juga dapat menurunkan saya tahan tubuh, sehingga memiliki peluang terserang
penyakit. Jika dilihat berdasarkan siklus daur hidup manusia, anemia gizi besi yang
diderita oleh remaja akan berpengaruh sangat besar terhadap kehamilan dan juga persalinan
yamh akan dialaminya dikemudian hari. Ibu hamil yang mengalami anemia saat
remaja dan tidak diatasi sampai dia mengalami kehamilan maka akan berdampak
buruk bagi ibu dan bayi yang ada didalam kandungannya. Hal ini dikarenakan
apabila pada saat hamil ibu masih mengalami anemia, maka ibu hamil tidak bisa
memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuhnya dan si bayi. Akibatnya akan terjadi
abortus, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, mengalami sulitnya
melahirkan bayi karena Rahim tidak bisa berkontraksi dengan baik, serta resiko
terjadinya pendarahan yang bisa menyebabkan kematian maternal (Listiana, 2016).
Anemia tidak hanya berdampak pada remaja yang akan menjadi
ibu saja, tapi berdampak juga terhadap masa depan anak yang dilahirkan. Ibu hamil
yang mengalami anemia akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Bayi
dengan berat bayi lahir rendah yang tidak dirawat dengan baik maka akan
mengalami masalah gizi yang lain salah satunya adalah stunting, yang apabila
diderita dalam jangka yang panjang maka akan menyebabkan kematian. Oleh karena
itu anemia bukanlah masalah gizi yang bisa disepelekan, tetapi anemia merupakan
masalah gizi yang perlu mendapatkan perhatian lebih, khususnya pada remaja
putri yang merupakan kelompok rentan terkena anemia agar bisa mencetak generasi
bangsa yang berkualitas dikemudian hari.
Anemia dapat dicegah melalui dengan pemeliharaan
keseimbangan antara asupan zat besi yang dibutuhkan tubuh dengan hilangnya asupan
zat besi dalam tubuh. Jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan
zat besi dalam tubuh setiap seorang remaja putri dengan yang lainnya akan berbeda.
Hal ini tergantung pada pada riwayat reproduksi dan jumlah zat besi yang hilang
dalam tubuh selama menstruasi. Peningkatan konsumsi zat besi untuk memenuhi
kebutuhan zat besi dapat dilakukan dengan meingkatkan konsumsi makanan yang mengandung
zat besi dan meminimalkan makanan yang mengandung zat yang dapat absorpsi zat
besi ke dalam tubuh. Jika kebutuhan zat besi tidak cukup terpenuhi dengan pola
makan, maka dapat ditambah dengan suplementasi zat besi bagi remaja yang masih
dalam masa pertumbuhan. Suplementasi zat besi merupakan salah satu strategi
yang dapat meningkatkan intake zat besi yang akan berhasil apabila seseorang yang
mematuhi aturan mengkonsumsinya. Bentuk strategi lain yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan kepatuhan dalam mengkonsumsi suplemen zat besi adalah dengan
melalui pemberian informasi terkait pentingnya mengkonsumsi suplemen zat besi
dan efek samping yang akan dihasilkan jika mengkonsumsinya.
Strategi diatas tidak bisa dilakukan dengan mengandalkan
tenaga medis saja, tetapi dibutuhkan juga kerjasama antara tenaga kesehatan
dengan berbagai sector terkait seperti dinas kesehatan, orang tua atau keluarga
dan sector lainnya yang bisa menunjang suksesnya strategi dalam mencegah dan
menanggulangi anemia sejak dini. Sehingga apabila semua bisa bekerja sama
dengan baik maka dapat menurunkan angka prevalensi anemia di Indonesia dan bisa
mencetak generasi muda yang berkualitas bagi bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018. Riset Kesehatan Dasar 2018,
pp. 182–183.
Listiana, A. (2016).
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Gizi Besi pada
Remaja Putri di SMKN 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah. Jurnal Kesehatan,
7(3), 455. https://doi.org/10.26630/jk.v7i3.230
Rudi, A., & , Lea
Masan, H. N. K. (2018). Determinan yang mepengaruhi kejadian anemia pada
mahasiswi kebidanan. 28–32.
